Merancang Model Multimedia untuk Anak Berkebutuhan Khusus

0
811

Beberapa waktu lalu Balai Pengembangan Multimedia Pendidikan dan Kebudayaan (BPMPK) mengadakan analisis untuk perancangan model (pembelajaran) multimedia bagi anak yang berkebutuhan khusus (Solo, 15-17 Mei 2017).

Dalam kegiatan tersebut terungkap bahwa masih banyak dijumpai guru-guru Sekolah Luar Biasa (SLB) yang mengalami kesulitan ketika memberikan pembelajaran di kelas, karena minimnya media pembelajaran untuk Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).

Kenyataan lain yang perlu disadari adalah bahwa setiap anak berkebutuhan khusus ini memiliki tuna yang beragam, seperti tuna grahita, tuna netra, tuna dhaksa, tuna rungu, tuna laras dan ketunaan yang lainnya. Masing-masing ketunaan memiliki terapi dan pelayanan tersendiri. Jadi tidak bisa digeneralisasi pada saat mengembangkan media.

Oleh karena itu demi mewujudkan model multimedia pembelajaran yang sesuai untuk ABK, BPMPK menggandeng pihak-pihak terkait guna mencari data dan informasi mengenai ABK. Narasumber yang diundang pada kegiatan tersebut adalah Suswanto Heru dari PPPPTK TK dan PLB, Ishartiwi, M.Pd. dari Universitas Negeri Yogyakarta, dan Cepi Riyana, M.Pd. dari Universitas Pendidikan Indonesia.

Selain itu BPMPK juga mengundang beberapa komponen memiliki kompetensi dan pemahaman terhadap ABK, antara lain, Dinas Pendidikan (yang membidangi Pendidikan Khusus), guru-guru Sekolah Luar Biasa (SLB) dan praktisi.

Dalam diskusi, pihak Dinas Pendidikan menyampaikan beberapa hal penting, termasuk diantaranya masukan untuk pengembangan media, antara lain bahwa pembelajaran masih sangat klasikal dan guru adalah kunci dalam pembelajaran itu sendiri karena ABK mengalami kesulitan untuk berkomunikasi.

Oleh karena itu Dinas menyarankan agar pada saat membuat media disesuaikan dengan kondisi anak dan menerjemahkan gim/simulasi tertentu ke dalam bentuk media yang menyenangkan dan materi yang dikembangkan hendaknya menekankan siswa pada kemandirian.

Dari pihak guru SLB menyampaikan, bahwa seringkali mereka dihadapkan pada keadaan dimana satu guru menangani lebih dari satu anak, dan selama ini fasilitas dan infrastruktur masih sangat minim di sekolah. Usulan mereka, media yang dikembangkan hendaknya berformat gim edukasi, berbasis komputer maupun ponsel pintar.

Pihak praktisi, yang terdiri dari pekerja teknis dan operasional media menambahkan, simulasi dan gim akan menjadi media pembelajaran yang penting, karena sifatnya yang interaktif menstimulasi anak sehingga tidak bosan. Selain itu juga mengandung perintah suara sebagai pemandu interaksi berbasis indra yg berfungsi normal, misalnya saja berbasis audio, gerak, dan bahkan bisa mengadopsi teknologi Virtual Reality, dengan menyesuaikan kondisi anak.

Gim sifatnya dapat meningkatkan pengetahuan anak dengan tampilan grafis yang menarik, seperti dua dimensi, sederhana, penuh warna cerah dan tegas, pilihan huruf sederhana, serta sesuai layar media yang digunakan.

Berangkat analisis kebutuhan tersebut, BPMPK akan menindaklanjuti ke arah perancangan desain dan aplikasi. Tahapan perancangan ini juga akan melibatkan pihak dan komponen terkait. (PP)